Entri Populer

Selasa, 28 Desember 2010

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK



UDAH PERNAH BACA NOVEL KLASIK YANG JUDULNYA “TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK’…KALAU BELUM COBA BACA RESENSI BUKANYA KALAU TERTARIK BELI DI TOKO BUKU YANG TERDEKAT DARI TEMPTA ANDA


Sebuah roman percintaan karya Hamka yang bersetting zaman colonial ini, menceritakan tentang Zainuddin, seorang pemuda Mengkasar yang pergi menuntut ilmu ke negeri minang. Dia seorang yang pintar dan menguasai ilmu agama. Di Batipuh, dia berkenalan dengan seorang gadis desa yang cantik dan soleha yang dipuja banyak orang, bernama Hayati.

  Dalam pertemuan selanjutnya, mereka menemukan kecocokan satu sama lainnya, dalam arti kata, saling jatuh cinta dan berjanji setia sampai mati. Hingga kemudian, Zainuddin menemui mamak Hayati yang bertujuan untuk melamar kemenakannya. Karena dianggap Zainuddin tidak memiliki harta benda dan tidak diketahui secara jelas garis keturunannya, maka lamaran Zainuddin pun ditolak dengan penghinaan.

Dengan menahan malu, dia pergi ke Padang-Panjang untuk meneruskan pendidikannya. Disinilah dia mendapatkan berbagai ilmu seperti: agama, bahasa Inggris, bahasa Belanda bahkan pelajaran biola. Kebetulan saat itu ada sebuah alek nagari tahunan di Padang-Panjang, yakni pacuan kuda yang ditonton oleh sebagian besar anak nagari dari penjuru minangkabau, termasuk nagari Batipuh. Maka berangkatlah Hayati ke Padang-panjang bersama seorang kerabatnya dan tinggal di rumah sahabatnya,Chadidjah.

Chadidjah merupakan seorang gadis kota yang memiliki pemikiran terbuka terhadap gaya hidup Eropa. Dia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Aziz yang bekerja pada pemerintahan colonial di Padang. Diarena pacuan kuda, mereka bertemu dengan Zainuddin yang terlihat kumal sehingga timbul perasaan malu dalam diri Hayati. Terlebih temannya banyak yang ikut mengejek, termasuk Azis, yang telah jatuh hati kepada Hayati dan berusaha membuat Zainuddin terlihat nista didepan mereka.

Setelah kepulangan Hayati ke Batipuh, keluarga Aziz mengantarkan lamaran mereka kepada ninik mamak Hayati dan disambut dengan gembira karena dianggap mereka sederajat dan jelas asal usulnya. Hayati, setelah didoktrin oleh keluarga dan sahabatnya, chadidjah, akhirnya setuju untuk menikah dengan Aziz.  Kabar pernikahan Hayati terdengar oleh Zainuddin yang membuat dia hancur luluh lantak, seakan tak bisa utuh kembali. Beruntun datang kabar dari Mengkassar yang menyampaikan berita duka tentang kematian orang tuanya. Diapun jatuh sakit dan tak seorangpun, baik dukun maupun dokter, mampu mengobatinya.

Disaat ajal hampir menjelang, dijemputlah Hayati guna mengobati kerinduan Zainuddin yang dalam igauannya selalu menyebut nama Hayati. Saat itulah Zainuddin tersadar bahwa Hayati telah milik orang, ketika melihat tangan Hayati telah dihiasi inai.

Dengan bantuan Muluk, akhirnya Zainuddin dapat bangkit kembali, untuk selanjutnya mereka hijrah ke pulau jawa, lebih tepatnya di kota Surabaya. Disini dia kemudian menjadi penulis terkenal dan termasyhur dengan karya-karya bermutu.

Sementara itu, Aziz mendapatkan promosi jabatan yang mengharuskannya pindah ke Surabaya. Karena tabiat Aziz yang kurang baik dan suka berjudi, dia mengalami kehancuran yang memalukan yang memaksanya untuk meminta pertolongan kepada Zainuddin. Zainuddin menerima mereka dengan tangan terbuka tanpa terlihat ada dendam dalam perbuatannya.

Merasa hidup sebagai parasit, Aziz meminta izin mencari pekerjaan ke Banyuwangi dan menitipkan istrinya kepada Zainuddin. Dalam putus asanya, Aziz kemudian mengirim surat permintaan maaf kepada Zainuddin dan surat cerai kepada Hayati, untuk seterusnya dia bunuh diri di sebuah hotel.

Ketika mendapat informasi dari Muluk bahwa Zainuddin masih mencintainya, Hayati mencoba meminta maaf dan memperbaiki hubungan mereka dahulu. Tetapi Zainuddin menolak dengan tegas dan menyuruh Hayati untuk kembali ke kampung walau dia tahu bahwa mereka akan sama-sama terluka.

Di atas kapal Van Der Wijck, Hayati menitipkan sebuah surat untuk Zainuddin. Surat yang dibuat dengan sepenuh hati itu, ternyata mampu melelehkan hati Zainuddin dan dia berencana untuk menjemput Hayati di pelabuhan Tanjung Priok. Namun malang tak dapat ditolak, kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam dan menewaskan hampir seluruh penumpangnya.

Sebuah tragedy percintaan karya Buya Hamka ini memiliki jalan cerita yang sederhana namun memiliki karakter yang kuat. Daya tarik lainnya adalah pemaparan status social masyarakat yang gamblang di Minangkabau pada zaman colonial. Tak heran roman ini masih dibaca orang sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar